Teori Sikap Menurut Para Ahli - Id Sejarah Kita

Teori Sikap Menurut Para Ahli


Halo bung pada artikel kali ini id.sejarahkita.com akan mengulas tentang teori sikap menurut para ahli. 

Menurut Fishbein dalam Rahman (2013: 27) sikap adalah predisposisi emosional yang dipelajari untuk merespon secara konsisten terhadap suatu objek. 

Sikap merupakan variabel yang mendasari, mengarahkan, dan memengaruhi perilaku. Sikap tidak identik dengan respon dalam bentuk perilaku, tidak dapat diamati secara langsung tetapi dapat disimpulkan dan konsistensi perilaku yang dapat diamati. Hal tersebut sesuai dengan simpulan Horocks (Rahman,2013:29) secara operasional, sikap dapat diekspresikan dalam bentuk kata-kata atau tindakan yang merupakan respon reaksi dari sikapnya terhadap objek, baik berupa orang, peristiwa, atau situasi.

Menurut Gerungan (1996: 149-150) menyatakan attitude (sikap) dapat diterjemahkan dengan sikap terhadap obyek tertentu, yang merupakan sikap pandang atau sikap perasaan, tetapi sikap tersebut disertai oleh kecenderungan untuk bertindak sesuai dengan obyeknya.

Jadi, attitude dapat diterjemahkan sebagai sikap dan kesediaan beraksi terhadap suatu hal. Attitude senantiasa terarahkan terhadap suatu hal, suatu obyek. Tidak ada attitude tanpa ada obyeknya.

Attitude dapat dibedakan ke dalam attitude sosial dan attitude individual. Attitude sosial menyebabkan terjadinya cara-cara tingkah
laku yang dinyatakan berulang-ulang terhadap suatu obyek sosial, dan biasanya attitude sosial itu dinyatakan tidak hanya oleh seseorang saja, tetapi juga oleh orang-orang lain atau sekelompok atau semasyarakat.

Attitude individual terdiri atas kesukaan dan ketidaksukaan pribadi atas objek-objek, hewan-hewan, dan hal-hal tertentu. Attitude individul
itu turut pula dibentuk karena sifat-sifat pribadi kita sendiri.

Menurut Chaplin dalam Kartono (2006: 469) menyamakan sikap dengan pendirian. Lebih lanjut dia mendefinikan sikap sebagai predisposisi atau kecenderungan yang relatif stabil dan berlangsung terus menerus untuk bertingkah laku atau bereaksi dengan cara tertentu dengan orang lain, objek, lembaga atau persoalan tertentu. 

Dilihat dari sudut pandang yang berbeda, sikap merupakan kecenderungan untuk beraksi terhadap orang, lembaga, atau peristiwa, baik secara positif maupun negatif. Sikap itu secara khas mencakup suatu kecenderungan untuk
melakukan klarifikasi dan kategorisasi. Sumber dari sikap tersebut bersifat kultural, familiar, dan personal. Artinya kita cenderung beranggapan bahwa sikap-sikap itu akan berlaku dalam suatu kebudayaan tertentu, di tempat individu dibesarkan. Jadi, ada semacam sikap kolektif (collectiv attitude) yang menjadi stereotipe sikap kelompok budaya tertentu. Sebagian besar dari sikap itu berlangsung dari generasi ke generasi di dalam struktur keluarga. Akan tetapi, beberapa dari tingkah laku individu juga berkembang menuju
kedewasaan berdasarkan pengalaman individu itu sendiri.

Louis Thurstone dalam Mueller (1992: 3-4) mendefinisikan sikap sebagai jumlah seluruh kecenderungan dan perasaan, kecurigaan dan
prasangka, prapemahaman yang mendetail, ide-ide, rasa takut, ancaman dan keyakinan tentang suatu hal khusus. Tahun 1931 Thurstone mendefinisikan sikap secara sederhana yaitu menyukai atau menolak suatu objek psikologis.

Menurut Emory Bogardus dalam Mueller (1992: 4) adalah suatu kecenderungan faktor lingkungan yang menunjukkan bahwa sikap adalah suatu keadaan kesiapan mental atau syaraf. Sikap sebagai konsistensi dalam menjawab obyek-obyek sosial. Menurut Stephen R. Covey (1989) ada tiga kategori determinisme yang diterima secara luas, baik sendiri-sendiri maupun kombinasi, untuk menjelaskan sikap manusia, yaitu:
a. Determinisme genetis (genetic determinism)
Berpandangan bahwa sikap individu diturunkan oleh kakek-neneknya.
b. Determinisme psikis (psychic determinism)
Berpandangan bahwa sikap individu merupakan hasil dari perilaku, pola asuh, atau pendidikan orang tua yang diberikan oleh anaknya
c. Determinisme lingkungan (environmental determinism) Berpandangan bahwa perkembangan sikap seseorang sangat
dipengaruhi oleh lingkungan tempat individu tinggal dan bagaimana lingkungan memperlakukan individu tersebut. Bagaimana atasan/pimpinan memperlakukan kita, bagaimana pasangan memperlakukan kita, situasi ekonomi, atau kebijakan-kebijakan pemerintah, semuanya membentuk perkembangan sikap individu.

Sikap merupakan salah satu aspek psikologi individu yang sangat penting karena sikap merupakan kecenderungan untuk berperilaku sehingga akan banyak mewarnai perilaku seseorang.

Pembentukan sikap tidak terjadi dengan sendirinya atau dengan sembarangan saja. Pembentukannya senantiasa berlangsung dalam interaksi manusia dan berkenaan dengan obyek tertentu. Interaksi sosial di dalam kelompok maupun di luar kelompok dapat mengubah sikap atau membentuk sikap yang baru. Yang dimaksud interaksi di
luar kelompok adalah interaksi dengan hasil kebudayaan manusia melalui alat-alat komunikasi seperti surat kabar, radio, televisi, buku, risalah, dan yang lainnya. Tetapi pengaruh dari luar diri manusia karena interaksi di luar kelompoknya itu sendiri belum cukup untuk menyebabkan berubahnya sikap atau terbentuknya sikap baru. 

Faktor-faktor lain yang turut memegang peranan ialah faktor-faktor intern di dalam diri pribadi manusia itu, yakni selektivitasnya sendiri, daya pilihnya sendiri, atau minat perhatiannya untuk mengolah dan menerima pengaruh-pengaruh yang datang dari luar dirinya itu. Faktor-faktor intern itu turut ditentukan pula oleh motif-motif dan sikap lainnya yang sudah terdapat dalam diri pribadi orang itu.

Demikian pembahasan dari kami tentang teori sikap menurut para ahli, semoga bermanfaat. 

0 Response to "Teori Sikap Menurut Para Ahli"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel